Untitled Document
Selamat Datang di Website Eyang Agung.......... Anda Adalah Pengunjung ke : 12451
Untitled Document

Puasa Sebagai Sarana Pendidikan Anak: Oleh Hj. Siti Robiah M.Pd
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Agama - Dibaca: 1399 kali

Anak-anak memang tidak diwajibkan berpuasa, namun mereka harus dilatih sejak dini. Bisa dimulai dengan seperempat hari, atau setengah hari dan kalau sudah kuat bisa sampai sore (berbuka). Boleh-boleh saja orang tua mengiming-imingkan hadiah bagi  anak yang sanggup menuntaskan puasanya sampai saat berbuka tiba. Atau mengajaknya bermain (hiburan) untuk melupakan rasa laparnya. Dengan hadiah dan hiburan tersebut anak-anak akan termotivasi untuk berjuang.

Sebuah hadis dari  dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz. Ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang pada pagi hari di hari Asyura (10 Muharram) ke salah satu perkampungan Anshor, lantas beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak berpuasa di pagi hari, maka hendaklah ia menyempurnakan sisa hari ini dengan berpuasa. Barangsiapa yang berpuasa di pagi harinya, hendaklah ia tetap berpuasa.” Ar Rubayyi’ berkata, “Kami berpuasa setelah itu. Dan kami mengajak anak-anak kami untuk berpuasa. Kami membuatkan pada mereka mainan dari bulu. Jika saat puasa mereka ingin makan, maka kami berikan pada mereka mainan tersebut. Akhirnya mereka terus terhibur sehingga mereka menjalankan puasa hingga waktu berbuka.” (HR. Bukhari).

Sarana Latihan

Dari riwayat tersebut dapat dipetik hikmah bahwa anak-anak harus dilatih, diajar dan disuruh untuk berpuasa sesuai dengan umur dan kemampannya. Jika ia sanggup hanya setengah hari, maka disuruh setengah hari. Dan kalau ia bisa sampai berbuka maka harus disuruh sampai berbuka.

Yang lebih  penting dari itu adalah semua ritual yang berhubungan dengan puasa harus diterapkan. Mulai dari sholat tarawih, tadarus, qiamullail dan makan sahur.

Para ulama sepakat bahwa ibadah dan berbagai kewajiban tidaklah wajib kecuali jika seseorang sudah baligh. Namun mayoritas ulama menganjurkan agar anak dilatih berpuasa dan melakukan ibadah supaya nantinya mereka tidak meninggalkannya, dan terbiasa serta mudah melakukannya ketika sudah wajib nantinya

Pada prinsipnya anak-anak senang jika diajak makan sahur, meski untuk membangunkannya agak susah. Begitu juga menunaikan sholat tarawih, anak-anak akan gembira.  Maka orang  tua harus menyuruhnya, tetapi tetap  menjaga agar mereka  tidak menimbulkan keriuhan di dalam masjid sehingga menganggu kekhusukan sholat jamaah.

Bahkan sebenarnya anak-anak juga senang melakukan tadarus atau sholat malam. Untuk itu mereka harus dibimbing, dimotovasi dan dijaga. Semua ritual ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah sarana latihan bagi anak-anak. Dengan latihan itu kelak –jika saatnya sudah diwajibkan- mereka akan terbiasa dan tidak merasa berat menunaikannya. Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah wajib, termasuk ke dalam rukun Islam, yang jika ditinggalkan akan berdosa dan jika ditunaikan akan mendapat pahala.

Latihan puasa di bulan Ramadhan tidak hanya berguna melatih anak-anak berpuasa, tetapi juga akan bermanfaat untuk melatih sikap hidup, mental, kepribadian yang lain. Dengan berpuasa anak-anak akan merasakan lapar, dengan lapar ia akan merasakan betapa susahnya menjadi orang miskin yang tidak mempunyai nasi untuk dimakan. Dengan demikian secara perlahan sikap kasih, berbagi dan menghargai orang lain akan muncul. Juga akan mengajarkannya berhemat. Mereka akan menghargai setiap rezeki yang diperoleh orang tua dan tidak menyia-nyiakannya.

Selain sikap tenggang rasa itu anak-anak juga akan berlatih mendisiplinkan diri. Selama puasa mereka dibangunkan pada saat akan makan sahur. Bangun malam adalah sesuatu yang selama ini tak pernah atau jarang dilakukannya, tetapi dengan makan sahur mereka pun melakukan. Melatih diri sesuatu yang baru memang agak susah tetapi setelah dikerjakan akan menyenangkan dan terbiasa. Latihan mendisiplinkan diri ini adalah bagian yang sangat menguntungkan di bulan Ramadhan.

Membentuk Mental

Karena kesibukan, saat ini banyak orang tua yang tanpa sadar  memberikan contoh kurang baik terhadap anak-anak. Misalnya membiarkan mereka bermain game (internet) tanpa mengenal waktu, memenuhi semua permintaan mereka tanpa menyeleksi sehingga memunculkan sikap hedonistik. Membelikan mainan-mainan yang dapat menimbulkan sikap egois anak.

Sikap ini kurang baik dan kurang mendidik. Kelak anak-anak  bisa menjadi manusia yang asocial, anti masyarakat dan egoistis.

Puasa melatih jiwa sosial anak-anak saat mereka sholat tarawih berjamaah di masjid. Melatih mereka menghargai sesama saat mereka sam-sama letih dan lapar, menghormati orang tua dan merasakan penderitaan orang miskin. Dengan merasakan penderitaan tersebut sikap mentalnya akan terasah untuk lebih peka. Lebih halus dan tidak menuntut terus-menerus.

Begitu banyak hikmah yang dapat dipetik pada bulan Ramadhan untuk anak-anak maka sangatlah sayang jika kesempatan baik ini disia-siakan orang tua. Orang tua harus memanfaatkannya, meluangkan waktu sibuknya untuk membentuk mental dan watak anak-anak tanpa harus bersikap agresif, tetapi dengan sikap welas asih dan lemah lembut.***



Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

 

Copy Right 2012 | All Right is Reserved | Eyang Agung

Home |Profil | News | Terapi |Tours & Travel | Entertaint | Society | Yatim | Hubungi Kami