Untitled Document
Selamat Datang di Website Eyang Agung.......... Anda Adalah Pengunjung ke : 6748
Untitled Document

Upacara Adat Tingkeban Hj.Shiva (1): Melestarikan Tradisi Jawa
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Budaya - Dibaca: 3657 kali

Eyang Agung menyelenggarakan upacara adat Jawa Tingkeban (mitoni), yakni selamatan tujuh bulan usia kandungan puteri tersayangnya Hj. Shiva S.Psi, di Sasono Hinggil, Minggu 16 Juni 2013. Tingkeban merupakan rangkaian dari sejumlah tradisi menunggu kelahiran calon bayi, sebelumnya Eyang Agung juga telah melakukan syukuran empat bulan yang diisi dengan pengajian oleh jamaah majelis taklim al-Ikhsan dan masyarakat setempat serta anak-anak yatim.

Tradisi Jawa

Seperti diungkapkan Eyang Agung dalam sambutannya, tingkeban ini adalah tradisi adat  budaya Jawa, yang selaras dengan ajaran agama. Tujuannya untuk mendoakan agar calon bayi lahir dengan selamat dan memperoleh keturunan yang baik dan diharapkan menjadi pemimpin, bukan saja dalam keluarga, tetapi juga untuk umat secara keseluruhan.

Acara dimulai dengan siraman calon Ibu (Hj. Shiva) dari tujuh sumber mata air, diantaranya dari air zam-zam, air  ja’ronah (tanah suci), air Sasono Hinggil, Kahirupan, Demak dan Cirebon. Ketujuh sumber air tersebut dimasukkan ke dalam gentong, ditambah dengan kembang tujuh rupa dan dua buah kelapa gading kemudian diaduk. 

Siraman dilakukan oleh tujuh orang, dilakkan dengan sangat hati-hati mulai dari pundak bagian belakang, dada, perut dan mengusap kaki.Giliran pertama yang melakukannya adalah suami (Brian), kemudian dilanjutkan oleh Eyang Agung, Eyang Puteri, Mama Brian, Mbah Brian, isteri Pakde Mul dan isteri Om Toha (adik Ibu).

Siraman dengan tujuh sumber mata air dan kembang tujuh rupa adalah simbol mensucikan diri dari segala noda, sehingga, ibu maupun bayi yang akan  dilahirkan  benar-benar suci dan bersih lahir batin.

Usai siraman, dilakukan prosesi memasukkan kelapa gading dan telor ke dalam kain  yang dikenakan Shiva. Prosesi  ini dilakukan oleh Brian. Diawali dengan memilih dua buah kelapa gading yang sebelumnya sudah diberi gambar wayang Kamajaya dan  Kamaratih. Kamajaya adalah simbol untuk laki-laki dan Kamaratih adalah simbol untuk perempuan. Pemandu acara menyodorkan dua kelapa gading itu dalam baki dalam keadaan tertelungkup (gambar wayangnya tidak kelihatan) dan menyuruh Brian memilihnya.

Ternyata Brian memilih kelapa gading yang bergambar wayang Kamajaya, artinya calon sang anak adalah laki-laki. Menurut pembawa acara, ini adalah USG zaman dahulu. USG adalah teknologi kedokteran  modern untuk melihat jenis kelamin di dalam kandungan.

Brian kemudian memasukkan kelapa tersebut ke dalam kain yang dikenakan Shiva dengan sangat hati-hati, mulai dari dada, turun ke perut dan sampai ke bawah yang disambut oleh mamanya (calon nenek). Prosesi ini berjalan sedikit tegang,  maklum sebagai calon bapak Brian benar-benar menjaga keselamatn isteri. Kelapa gading yang sudah turun itu digendong oleh sang nenek. Ini adalah simbol sang bayi yang lahir selamat dan keluarga yang menantinya sangat bersuka cita.

Setelah itu Brian pun melakukan hal yang sama, kali ini yang dimasukkan adalah telor dan dibawahnya ditampung cawan kecil.Telur itu harus dijatuhkan. Alhamdulillah prosesi ini pun selamat, telur itu pecah dalam cawan.

Usai pecah telor, sang calon ibu kembali duduk ke tempat siraman untuk mengambil air udhuk. Air udhuk bersumber dari kendi yang dituangkan Brian. Air itu tidak boleh putus mengalir dari mulut kendi sampai udhuk selesai dan harus dihabiskan. Ini adalah simbol rezeki yang tak akan putus-putus kelak.

Terakhir dalam prosesi ini adalah membelah kelapa gading bergambar wayang Kamajaya, dilakukan oleh Brian. Membelahnya hanya sekali ayunan dengan parang yang tajam. Dalam tradisi Jawa, jika airnya muncrat maka janinnya adalah laki-laki tetapi kalau melelah maka perempuan. Saat dibelah Brian air kepala gading itu muncrat, sepertinya memberi gambaran bahwa calon sang bayi  adalah laki-laki. (menurut pembawa acara ini adalah juga USG zaman dahulu). Setelah itu Shiva dan Brian masuk ke dalam rumah untuk mengganti busana yang basah tersebut.

Serba tujuh

            Saat Shiva dan Brian ganti busana, Eyang Agung beserta Ibu melakukan pemotongan tumpeng. Ada tujuh tumpeng yang disiapkan, dan masing-masing tumpeng berisi 7 macam makanan. Serba tujuh ini adalah symbol tujuh bulanan. Jadi semuanya tujuh.

            Acara dilanjutkan dengan prosesi pilih busana. Dalam prosesi ini Shiva menyiapkan tujuh busana yang akan dipilih untuk dipakai. Pemilihannya dilakukan dengan meminta pendapat seluruh tamu undangan. Saat pakaian pertama dikenakan, pemandu meminta pendapat seluruh hadirin, “Sudah pantas apa belum?” seluruh tamu menjawab “Belum!” Busana pun diganti dengan yang kedua. Pemandu pun  kembali bertanya kepada tamu  undangan dan dijawab “Belum”! Begitulah seterusnya sampai busana yang ketujuh. Saat busana ke tujuh dipakaikan dan pemandu meminta respon hadirin, maka seluruh hadirin menyatakan “Pantas!” maka akhirnya pakaian tersebutlah yang dipakai Shiva.

            Setelah pemilihan busana cocok yang dipilih sebanyak 7 kali, dilaksanakan pemutusan benang lawe dan janur yang di lingkarkan di perut calon ibu, di lakukan oleh calon ayah dengan maksud agar bayi yang di kandung akan lahir dengan mudah.

Kemudian calon ibu duduk di atas tumpukan baju dan kain yang tadi habis di gunakan. Hal ini memiliki simbol bahwa calon ibu akan selalu menjaga kehamilan dan anak yang di kandungnya dengan hati hati dan penuh kasih sayang. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi suapan kepada Shiva, yang pertama kali melakukannya adalah  Brian kemudian Eyang Agung, Eyang Puteri, Mama Brian dan Mbah Brian.

            Prosesi ini ditutup dengan pembuatan rujak. Shiva meramu (mengulek) bahan rujak, kemudian menyuruh suaminya mencicipi. Saat dicicipi, Brian menyatakan enak, maka rujak tersebut pun diolah dan dijual. Seluruh tamu undangan berebutan membelinya. Jualan rujak adalah simbol usaha yang beruntung untuk menghidupi keluarga kelak.

            Jualan rujak adalah puncak atau penutup dari seluruh rangkaian prosesi tingkeban, setelah itu Eyang menyampaikan kata sambutan dan doa.

            Namun setelah acara tingkeban usai Eyang Agung masih mempunyai satu prosesi ekstra, sekaligus hiburan, yakni pelepasan ayam yang diperebutkan oleh seluruh tamu undangan yang laki-laki. Tamu perempuan tidak ikut ambil bagian. Ayam adalah simbol keuletan dan pergaulan karena bisa hidup di mana saja, cekatan,  bisa  hinggap di jendela dan   masuk  ke dalam rumah mencari makan dan bisa hidup dalam semua  kondisi. Diharapkan Eyang Agung calon cucunya kelak bisa bergaul dengan semua kalangan dan tidak terbatas pada kalangan tertentu saja.*** 



Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

 

Copy Right 2012 | All Right is Reserved | Eyang Agung

Home |Profil | News | Terapi |Tours & Travel | Entertaint | Society | Yatim | Hubungi Kami